Tag Archive | ibu pertiwi

Cap

Akupernah mendapatkan sebuah mimpi buruk. Aku tidak terlalu tenggelam dalam mimpi itu, tetapi aku bertanya-tanya, bagaimana aku bisa seberani itu untuk bermimpi tentang hal-hal yang mengerikan, padahal aku adalah seorang warga negara yang pendiam dan terhormat, seorang anak yang patuh dari ibu kita tercinta, Serbia yang menderita, sama seperti anak-anaknya yang lain. Tentu saja, jika aku adalah pengecualian dalam segala hal, hal itu akan berbeda, tetapi tidak, kawanku, aku melakukan hal yang sama seperti orang lain, dan berhati-hati dalam segala hal adalah keahlianku.

Suatu ketika aku melihat sebuah kancing yang berkilau dari seragam polisi yang tergeletak di jalan, dan aku menatap cahaya yang ajaib itu, sesaat sebelum melewatinya, penuh dengan kenangan manis, tiba-tiba, tanganku mulai bergetar dan aku bergegas memberi hormat; kepalaku tiba-tiba menunduk ke bumi, dan mulutku melebar menjadi senyuman indah yang kita semua kenakan saat menyapa atasan kita.

—  Darah bangsawan mengalir di pembuluh darahku –pasti itulah yang menjadi alasannya! — Hal inilah yang aku pikirkan pada saat itu dan aku memandang dengan jijik pada orang-orang yang tidak tahu sopan santun dan lewat sembarangan sambil menginjak kancing itu.

— Kampungan! — Aku berkata dengan getir, dan meludah, lalu berjalan kembali dengan tenang, terhibur oleh pikiran bahwa orang-orang kampungan seperti itu jumlahnya sedikit; dan aku sangat senang bahwa Tuhan telah memberiku hati yang halus serta darah yang mulia dan sopan dari nenek moyang kami.

Nah, sekarang kalian bisa melihat betapa hebatnya aku, sama sekali tidak berbeda dari warga terhormat lainnya, dan kalian pasti bertanya-tanya bagaimana hal-hal yang begitu mengerikan dan bodoh bisa terjadi dalam mimpiku.

Tidak ada hal aneh yang terjadi kepadaku di hari itu.Aku menikmati makan malam yang enak dan setelah itu duduk sambil membersihkan gigi dengan tusuk gigi di waktu senggang; menyeruput anggur, kemudian, setelah menggunakan hak-hakku sebagai warga negara dengan berani dan hati-hati, aku pergi ke kamar tidur dan membawa sebuah buku agar bisa tidur lebih cepat.

Buku itu segera terlepas dari tanganku, tentunya, setelahbuku itu memuaskan keinginanku dansemua tugasku sudah selesai, aku tertidur seperti seekor anak domba yang polos.

Tiba-tiba aku menemukan diriku di sebuah jalan yang sempit dan berlumpur dengan arah melewati pegunungan.Sebuah malam yang dingin dan hitam.Angin menderu-deru di antara cabang-cabang yang tandus dan memotong seperti pisau cukur setiap kali menyentuh kulit yang telanjang. Langit yang hitam nanbodoh, dan mengancam, serta salju, yang seperti debu, bertiup ke arah mata dan menghantam wajah. Tidak terlihat sesosok jiwa pun di sana. Aku mempercepat langkah dan sesekali terpeleset di jalan yang berlumpur, ke kiri dan ke kanan. Aku terhuyung-huyung dan terjatuh dan akhirnya tersesat, aku terus mengembara — entah di mana — dan ini bukanlah sebuah malam yang singkat dan biasa, tetapi terasa seperti seabad, dan aku terus berjalan tanpa tahu berada di mana.

Jadi aku berjalan selama bertahun-tahun dan tibadi suatu tempat, jauh, sangat jauh dari negara asalku ke bagian dunia yang tidak aku ketahui, sebuah negeri yang asing yang mungkin tidak diketahui oleh siapa pun dan, aku yakin, hanya dapat ditemukandi dalam mimpi.

Saat menjelajahi tanah itu, akutibadi sebuah kota besar dan ada banyak orang yang tinggal di sana. Di sebuah pasar yang besar ada sekumpulan orang, sebuah suara yang mengerikan terdengar, cukup untuk meledakkan gendang telinga seseorang. Aku menginap di sebuah penginapan yang menghadap ke pasar dan bertanya kepada pemiliknya, mengapa ada begitu banyak orang yang berkumpul…

— Kami adalah orang-orang yang pendiam dan terhormat, — dia memulai ceritanya, — kami setia dan patuh kepada lurah.

— Apakah lurah adalah pemimpin tertinggimu? – Tanyaku, menyela dirinya.

— Lurahlah yang berkuasa di sini dan dia adalah pimpinan tertinggi kami; kekuasaan selanjutnya ada di tanganpolisi.

Aku tertawa.

— Mengapa kamu tertawa? … Apa kamu tidak tahu? … Darimana kamu berasal?

Aku memberi tahu dirinya tentang bagaimana aku bisa tersesat, dan mengatakan padanya bahwa aku datang dari sebuah negeri yang jauh — Serbia.

— Aku pernah mendengar Negara yang terkenal itu! –bisiksipemilik penginapan kepada dirinya sendiri, menatapku dengan hormat, kemudian berbicara dengan lantang:

— Itulah carakami, — lanjutnya, — lurahlah yang berkuasa disini bersama polisi-polisinya.

— Seperti apa polisi kalian?

— Sebenarnya, ada beberapa macam polisi di sini — mereka berbeda-beda, tergantung pangkatnya. Ada yang lebih terpandang dan ada yang kurang terpandang… Kami, seperti yang kamu tahu, adalah orang-orang yang pendiam dan terhormat, tetapi ada banyak gelandangan yang datang dari lingkungan sekitar, mereka merusak kehidupan kami dan mengajari kami hal-hal yang jahat. Untuk membedakan warga negara kami dengan yang lain, kemarin, lurah memberi sebuah perintah bahwa seluruh warga kami harus pergi ke Pengadilan setempat, di mana masing-masing dari kami akan dicap dahinya. Itulah sebabnya mengapa ada begitu banyak orang yang berkumpul: untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.

Tubuhku bergidik dan aku berpikir bahwa aku harus melarikan diri dari negeri yang asing ini secepatnya, karena, meskipun aku seorang Serbia, aku tidak terbiasa dengan semangat kesatriaseperti itu, dan aku jadi sedikit gelisah!

Sang pemilik rumah tertawa lepas, menepuk pundakku, dan berkata dengan bangga:

— Ah, dasarorang asing, apakah yang tadi saja sudah cukup untuk membuatmu takut? Tidak heran, kamu harus menempuh perjalanan yang panjang untuk menemukan keberanian seperti kami!

— Laluapa yang akan kalian lakukan? — Tanyaku dengan takut.

— Pertanyaan yang bagus! Kamu akan melihat seberapa beraninya kami. Kamu harus menempuh jalan yang panjang untuk menemukan keberanian seperti kami.Kamu telah melakukan perjalanan yang jauh dan melihat dunia, tetapi aku yakin kamu belum pernah melihat pahlawan yang lebih hebat daripada kami.Ayo kita pergi kesana bersama.Aku harus segera ke sana.

Ketika kami akan pergi, kami mendengar, di depan pintu, ada suara cambukkan.

Aku mengintip keluar: ada sesuatu yang menarik perhatianku — seorang pria dengan topi khas petugas yang berkilau di kepalanya, mengenakan setelan yang mencolok, dan sedang menunggangi seorang pria lainnya dengan pakaian sipil yang sangat elegan. Dia berhenti di depan penginapan dan si penunggang itu turun.

Si pemilik penginapan keluar, membungkuk, dan pria dengan setelan yang mencolok itu masuk ke dalam penginapan menuju meja yang sudah dihias secara khusus.Pria yang berpakaian sipil menunggu di depan penginapan. Si pemilik penginapan juga membungkuk kepadanya.

— Untukapa semua itu? –Tanyaku dengan sangat bingung kepada pemilik penginapan.

— Nah, yang tadi masuk ke penginapan ini adalah seorang polisi berpangkat tinggi, dan priayang itu adalah salah satu warga negara kami yang paling terhormat, sangat kaya, dan seorang patriot yang hebat, — bisik si pemilik penginapan.

— Tapi kenapa dia membiarkan orang lainmenaiki punggungnya?

Si pemilik penginapan menggelengkan kepalanya ke arahku lalu kami menepi ke samping. Dia memberiku senyumanyang mengejek dan berkata:

— Kami menganggap hal tersebut sebagai kehormatan besar yang jarang didapatkan! — Dia juga memberitahuku banyak hal hebat selain hal itu, tetapi aku sangat bersemangat sehingga aku tidak bisa mengingatnya. Tapi aku mendengar dengan jelas apa yang dia katakan di akhir pembicaraan: — Ini adalah sebuah pengorbanan untuk negara, yang belum dipelajari dan dihargai oleh negaralainnya!

Kami mendatangipertemuan itu dan proses pemilihan ketua sedang berjalan.

Kelompok pertama menyalonkan seorang laki-laki bernama Kolb, kalau aku tidak salah dengar, sebagai calon ketua; kelompok kedua menginginkan Talb, dan kelompok ketiga memiliki calonnya sendiri.

Terjadi kebingungan yang mengerikan; setiap kelompok menginginkan pilihan mereka masing-masing.

— Saya rasa, tidak ada orang yang lebih baik daripada Kolb yang bisa menjadi ketua dari pertemuan yang sepenting itu, — kata sebuah suara dari kelompok pertama, — karena kita semua tahu betul tentang kebajikannya sebagai warga negara dan keberaniannya yang besar. Saya rasa tidak ada seorang pun di antara kita di sini yang bisa membanggakan diri karena sering ditunggangi oleh orang-orang yang sangat penting…

— Anda tidak berhak untuk bicara seperti itu, — pekik seseorang dari kelompok kedua. — Anda tidak pernah ditunggangi oleh seorang petugas polisi junior!

— Kami tahu kebajikan Anda, — seru seseorang dari kelompok ketiga. — Anda tidak akan pernah bisa menahan satu pukulan cambuk pun tanpa melolong!

— Mari kita luruskan hal ini, saudara-saudara! – Kolb memulai percakapan. — Memang benar bahwa orang-orang terkemuka pernah menunggangi saya sepuluh tahun yang lalu; mereka mencambuk saya dan saya tidak pernah menangis, tetapi mungkin, ada yang lebih pantas di antara kita. Mungkin ada calon yang lebih muda dan lebih baik.

— Tidak, tidak, — teriak para pendukungnya.

— Kami tidak ingin mendengar tentang prestasi yang sudah ketinggalan zaman! Sudah lewat sepuluh tahun dari sejak Kolb ditunggangi, — teriak suara-suara dari kelompok kedua.

— Darah mudalahyang akanmengambil alih, biarkan anjing tua mengunyah tulang yang tua, — kata beberapa orang dari kelompok ketiga.

Tiba-tiba suasana menjadi hening; orang-orang bergerak mundur, ke kiri dan ke kanan, untuk membuka jalan dan aku melihat seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun.Saat dia mendekat, semua kepala tertunduk.

— Dia siapa? — Bisikkukepada pemilikpenginapan.

— Dia adalah pemimpin favorit. Seorang pria muda, tapi sangat menjanjikan.Di hari-hari awalnya, dia bisa membanggakan diri karena pernah menggendong lurah di punggungnya sebanyak tiga kali.Dia lebih populer dari siapapun.

— Apa mereka akan memilihnya? — Tanyaku lagi.

— Itu lebih dari pasti, karena kandidat lainnya — mereka semua lebih tua, waktu sudah menyusul mereka, sedangkan kemarin, lurah pernah naik sebentar di punggungnya.

— Siapa namanya?

— Kleard.

Mereka memberinya tempat terhormat.

— Saya rasa, — Suara Kolb memecah kesunyian, — kita tidak dapat menemukan pria yang lebih baik untuk posisi ini selain Kleard. Dia masih muda, tapi tidak seorangpun dari kita yang lebih tua, yang setara dengannya.

— Benar,benar! … Hidup Kleard! … — teriak semua suara.

Kolb dan Talb mengantarnya ke tempat ketua.Semua orang membungkuk, dan suasana menjadi sangat hening kala itu.

— Terima kasih, saudara-saudara, atas rasa hormat yang tinggi dan penghargaan yang telah kalian berikan dengan suara bulat kepada saya. Harapan kalian, yang ada pada saya sekarang, terlalu berlebihan. Tidaklah mudah untuk mengarahkan kapal yang terisi dengan keinginan suatu bangsa untuk melalui hari-hari yang penting, tetapi saya akan melakukan segala daya upaya untuk menggunakan kepercayaan kalian, untuk mewakili pendapat kalian dengan jujur, dan untuk mendapatkan penghargaan kalian yang tinggi. Terima kasih, saudara-saudara, karena telah memilih saya.

— Hore! Hore! Hore! –gemuruh seluruh pemilih di semua penjuru.

— Dan sekarang, saudara-saudara, saya harap kalian dapat mengizinkan saya untuk menyampaikan beberapa patah kata tentang acara yang penting ini. Tidaklah mudah untuk menahan rasa sakit seperti itu, siksaan berat yang menanti kita; tidaklah mudah untuk memberikan dahi kita untuk dicap dengan besi yang panas. Memang, tidak mudah — itu adalah rasa sakit yang tidak semua orang bisa menahannya. Biarlah para pengecut gemetar, biarkan mereka memucat ketakutan, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa kita adalah putra para leluhur yang pemberani, bahwa darah bangsawan mengalir di nadi kita, darah heroik kakek kita, para ksatria hebat yang dulu mati tanpa mengedipkan kelopak mata untuk kemerdekaan dan untuk kebaikan kita semua, kita adalah keturunan mereka.

Penderitaan yang kita alami ini kecil, jika kalian membandingkannya dengan penderitaan mereka — apakah kitaakan berperilaku seperti keturunan yang mengalami kemunduran dan pengecut karena kita hidup lebih baik daripada sebelumnya? Setiap patriot sejati, setiap orang yang tidak ingin mempermalukan bangsa kita di hadapan seluruh dunia, akan menanggung rasa sakit layaknyaseorang pria dan seorang pahlawan.

— Benar! Benar! Hidup Kleard!

Ada beberapa pembicara yang berapi-api setelah Kleard; mereka menyemangati orang-orang yang ketakutan dan kurang lebih mengulangi hal yang sama dengan apa yang dikatakan Kleard.

Kemudian seorang lelaki tua yang pucat dan terlihat lemah, dengan wajahnya yang keriput, rambut dan janggutnya yang seputih salju, meminta ijin untuk berbicara. Lututnya goyah karena usia, tangannya bergetar, punggungnya bungkuk. Suaranya gemetar, matanya berkaca-kaca.

— Anak-anak, — dia memulainya, dengan air mata yang mengalir di pipinya yang putih dan keriput dan terjatuh di janggut putihnya, — Aku sengsara dan aku akan segera mati, tetapi menurutku sebaiknya kalian tidak membiarkan rasa malu seperti itu datang kepada kalian. Umurku seratus tahun, dan akumasih tetap hidup tanpa hal itu!… Mengapa cap perbudakan harus tergambar di kepalaku yang putih dan lelah ini sekarang? …

— Hentikan perkataan itu bajingan tua! — teriaksang ketua.

— Hentikan dia! — teriakyang lainnya.

— Pengecut tua!

— Bukannya menyemangati kaum muda, dia malah menakuti semua orang!

— Dia seharusnya malu dengan ubannya! Dia telah hidup cukup lama, dan dia masih saja takut — kita yang masih muda malah lebih berani…

— Hentikan pengecut itu!

— Usir dia!

— Hentikan dia!

Sekelompok patriot muda pemberani yang marah menyerbu lelaki tua itu dan mulai mendorong, menarik, dan menendangnya dalam amarah mereka.

Mereka akhirnya membiarkan dia pergi karena usianya –kalau bukan karena usia, mereka pasti akan melempari dia hidup-hidup dengan batu.

Mereka semua berjanji kepada diri mereka sendiri untuk menjadi berani esok hari dan menunjukkan bahwa diri mereka layak atas kehormatan dan kemuliaan dari bangsa mereka.

Orang-orang meninggalkan pertemuan itu dengan sangat tertib. Saat berpisah mereka berkata:

— Besok kita akanmelihat jati diri orang-orang yang sebenarnya!

— Kitaakanmengetahui siapa saja yang pembualbesok!

— Inilah saat yang tepatbagi orang-orangyang pantas untuk membedakan diri mereka dengan mereka yang tidak pantas, sehingga seorang bajingan tidak bisa membangga-banggakan hati yang berani!

Aku kembali ke penginapan.

— Kamu sudah melihat kan kalau kami ini terbuat dari apa? — sang pemilik penginapan bertanya kepadaku dengan bangga.

— Tentu saja, — Aku otomatis menjawab, dan merasa bahwa kekuatanku telah meninggalkanku dan kepalaku berdengung dan meninggalkan kesan yang aneh.

Pada hari itu juga,aku membaca sebuah artikel utama di koran mereka yang berbunyi seperti ini:

— Wahai warga negara, inilah saatnya untuk menghentikan kesombongan dan bualan di antara kita; inilah saatnya untuk berhenti menghargai kata-kata kosong yang kita gunakan secara berlebihan untuk menampilkan kebajikan khayalan kita. Waktunya telah tiba, wahai warga negara, untuk menguji kata-kata kita dan menunjukkan siapa yang benar-benar pantas dan siapa yang tidak! Tapi kami percaya bahwa tidak akan ada pengecut yang memalukan di antara kita yang harus dibawa secara paksa ke tempat pengecapan yang telah ditentukan. Masing-masing dari kita yang di nadinya mengalir setetes darah mulia dari nenek moyang kita, akan berjuang untuk menjadi orang pertama yang menanggung rasa sakit dan kesedihan ini, dengan rasa bangga dan tenang, karena ini adalah rasa sakit yang suci, ini adalah pengorbanan untuk kebaikan negara kita dan kesejahteraan kita semua. Lanjutkanlah, wahai warga negara, karena besok adalah hari ujian yang mulia!…

Si pemilik penginapan langsung tertidur setelah pertemuan di hari itu agar bisa datang secepat mungkin ke tempat yang telah ditentukan keesokan harinya.Namun, ada banyak orang juga yang langsung pergi ke Balai Kota agar bisa berada sedekat mungkin dengan awal antrian.

Keesokan harinya aku juga pergi ke Balai Kota. Semua orang ada di sana— tua dan muda, pria dan wanita. Beberapa ibu menggendong bayi kecil mereka agar dapat dicap dengan cap perbudakan, yang mereka sebut kehormatan, dan dengan demikian mereka bisa mendapatkan hak yang lebih besar untuk posisi yang tinggi dalam pelayanan sipil.

Terjadi dorongan dan sumpah serapah (untuk yang satu itu, mereka mirip dengankami orang Serbia, dan entah bagaimana aku senang melihat kondisi itu), dan semua orang berusaha keras untuk bisa menjadi yang pertama di depan pintu. Beberapa bahkan saling mencekik leher.

Capini diterapkan oleh seorang pegawai negeri sipil khusus yang mengenakan setelan putih formal dan sedikit mencela warga:

— Ya ampun, jangan berisik, semua orang akan mendapatkan gilirannya –kalian bukan hewan, kita bisa mengaturnya tanpa harus saling mendorong.

Pengecapan dimulai.Ada yang berteriak, ada yang hanya mengerang, tapi tidak ada yang bisa menahannya tanpa suara selama aku berada di sana.

Aku tidak tahan untuk melihat siksaan ini terlalu lama, jadi aku kembali ke penginapan, tetapi beberapa dari mereka sudah berada di sana, makan-makan dan minum-minum.

— Sudah selesai! — kata salah satu dari mereka.

— Ya, kitamemang tidak benar-benar berteriak, tapi Talb meringis seperti keledai! … — kata orang yang lain.

— Kalian lihatsendiri seperti apa Talb kalian, dan kalian ingin dia untuk menjadi ketua pertemuan kemarin.

— Ah, kita tidak pernah tahu!

Mereka berbicara, mengerang kesakitan dan menggeliat, tetapi saling berusaha menyembunyikannya, karena masing-masing dari mereka merasa malu jika dianggap pengecut.

Kleard mempermalukan dirinya sendiri, karena mengerang, dan seorang pria bernama Lear menjadi seorang pahlawan karena dia meminta agar dua cap tertempel di dahinya dan tidak mengeluarkan suara kesakitan. Seluruh kotamembicarakan dirinya dengan sangat hormat.

Beberapa orang melarikan diri, tetapi mereka dipandang rendah oleh semua orang.

Setelah beberapa hari, orang dengan dua cap di dahinya itu berjalan dengan kepala yang terangkat tinggi, dengan martabat dan harga diri, penuh kemuliaan dan kebanggaan, dan kemanapun dia pergi, semua orang membungkuk dan melepaskan topinya untuk memberi hormat kepada pahlawan di hari itu.

Pria, wanita, dan anak-anak mengejarnya di jalanan untuk melihat pria terhebat di negara itu. Ke mana pun dia pergi, bisikan-bisikan yang terinspirasi oleh kekaguman mengikutinya: ‘Lear, Lear! … Itu dia! … Dialah pahlawan yang tidak melolong, yang tidak bersuara saat dua cap ditandaidi dahinya!’Dia menjadi berita utama di surat kabar, dipuji dan dimuliakan.

Dan dia pantas untuk mendapatkan cinta dari para warga.

Di mana-mana aku mendengar pujian untuk dirinya, dan aku mulai merasakan darah tua Serbia yang mengalir di nadiku, nenek moyang kami adalah pahlawan, mereka mati tertusuk untuk mempertaruhkankemerdekaan; kami juga memiliki masa lalu yang heroik dan Kosovo kami sendiri. Aku senang dengan kebanggaan dan kesombongan seorang warga negara, dan ingin menunjukkan seberapa beraninya ras dari negaraku dan bergegas pergi ke Balai Kota lalu berteriak:

— Mengapa kalian memuji Lear kalian?… Kalian belum pernah melihat pahlawan yang sebenarnya! Datang dan saksikan sendiri seperti apa darah bangsawan Serbia itu! Tandai sepuluh cap di kepalaku, tidak hanya dua!

Pegawai negeri sipil berjas putih itu mendekatkan capnya di dahiku, dan aku mulai… Aku terbangun dari mimpiku.

Aku mengusap dahi karena ketakutan dan membuat tanda salib, bertanya-tanya tentang hal-hal aneh yang muncul dalam mimpiku.

— Aku hampir membayang-bayangi kemuliaan Lear mereka, — Aku berpikir dan, merasa puas, membalikkan badan, dan entah bagaimana aku menyesal karena mimpiku belum berakhir.

 

Di Beograd, 1899.
Untuk Proyek “Radoje Domanović” diterjemahkan oleh Verdia Juliansyah Cancerika, 2020.

Pemikiran seekor lembu Serbia

Ada banyak keajaiban yang terjadi di dunia ini, dan negara kami, seperti yang dikatakan oleh banyak orang, penuhdengan banyak keajaiban sampai-sampai keajaiban yang terjadi di sini tidak lagi dianggap sebagai keajaiban. Ada orang-orang denganposisi yang sangat tinggi di sini yang sama sekali tidak menggunakan pikirannya, dan sebagai kompensasinya, atau mungkin karena beberapa alasan lain, seekor sapi ternak biasa, yang tidak berbeda sedikit pun dari lembu Serbia lainnya, mulai membuka pikirannya. Entah apa yang terjadi sehingga hewan yang cerdik ini berani melakukan sesuatu yang kurang ajar seperti itu, terutama karena sudah terbukti bahwa penjajahan yang tidak menguntungkan di Serbia ini hanya akan merugikan Anda.

Boleh dibilang, iblis yang malang ini, dengan semua kenaifannya, bahkan tidak mengetahui bahwa usaha ini tidak mendatangkan keuntungan di tanah airnya, jadi kita tidak akan menghubungkannya dengan keberanian sipil tertentu. Tetapi penyebab mengapa seekor lembu harus menggunakan pikirannya masih menjadi misteri, karena dia tidak memiliki hak pilih, bukan seorang anggota dewan, ataupunlurah, dia juga belum terpilih sebagai wakil di majelis sapi mana pun, atau bahkan seorang senator(jika dia telah mencapai usia tertentu).

Dan seandainya jiwa yang malang itu pernah bermimpi untuk menjadi seorang menteri negara di negara sapi mana pun, dia seharusnya mempraktikkan cara yang sebaliknya, yaitu menggunakan pikirannya sejarang mungkin, sama seperti menteri-menterihebat di beberapa negara yang lebih bahagia, meskipun negara kami juga tidak seberuntung itu dalam hal ini. Pada akhirnya, mengapa pula kita harus peduli tentang penyebab mengapa seekor lembu di Serbia melakukan usaha keras yang sudah ditinggalkan oleh rakyatnya?Lagipula, mungkin dia mulai menggunakan pikirannya hanya karena naluri alaminya.

Jadi, lembu jenis apakah dia? Seekor lembu biasa yang, seperti yang diajarkan ilmu hewan kepada kita, memiliki kepala, tubuh, dan anggota tubuh, sama seperti semua lembu lainnya; dia menarik gerobak, memakan rumput, menjilati garam, memamah biak dan meringkik. Namanya Abu.

Inilahawal mula mengapa dia mulai menggunakan pikirannya.Pada suatu hari majikannya mencambuk dirinya dan temannya, Arang, yang mengangkut beberapa tiang pancang curian dengan gerobak dan membawanya ke kota untuk dijual. Sesaat setelah memasuki kota, dia menjual tiang pancang tersebut,kemudian Abu dan temannyayang masih bebas, diikat menggunakanrantai padasebuah kuk, dia lalu melemparkan seikat bunga anemon di depan mereka, dan dengan riang pergi ke sebuah bar kecil untuk menyegarkan diri dengan sedikit minuman. Ada festival yang sedang berlangsung di kota, jadi ada banyak pria, wanita, dan anak-anak yang melintas dari semua sisi.

Arang, atau yang dikenal oleh lembu lain sebagai lembu yang agak bodoh, tidak melihat apa-apa, sebaliknya, dia terjebak dalam makan siangnya dengan sangat serius, makan dengan perut yang buncit, meringkik sedikit karena menikmati makanannya, kemudian berbaring, tertidur manis sambil mengunyah. Orang-orang yang melintasdi sanabukanlah urusannya. Dia hanya tertidur dan mengunyah dengan damai (sayangnya dia bukan manusia, semua kebiasaanitu cocok untuk karir yang tinggi).Tapi Abu tidak bisa memakan makanannya. Matanya yang melamun dan ekspresi sedih di wajahnya sekilas menunjukkan bahwa dia adalah seekor pemikir, dan sebuah jiwa yang manis dan mudah terpengaruh.

Orang-orang Serbia melewatinya, bangga dengan masa lalu mereka yang mulia, nama mereka, bangsa mereka, dan kebanggaan ini terlihat dalam sikap dan langkah mereka yang tegas. Abu mengamati semua ini, dan jiwanya tiba-tiba diliputi oleh kesedihan dan rasa sakit karena ketidakadilan yang luar biasa, dan dia tidak bisa menolak emosi yang begitu kuat dan tiba-tiba ini; dia meringis sedih, dengan rasa sakit, air mata mengalir di matanya. Dan dalam kesakitan yang luar biasa ini, Abu mulai berpikir:

– Hal apa yang sangat dibanggakan olehmajikanku dan rekan-rekan senegaranya, orang-orang Serbia? Mengapa mereka mengangkat kepala mereka begitu tinggi dan memandang bangsaku dengan penuh kesombongan dan penghinaan?Mereka bangga dengan tanah air mereka, bangga bahwa takdir yang penuh dengan belas kasih mengijinkan mereka untuk terlahir di Serbia. Ibuku juga melahirkanku di sini, di Serbia, dan Serbia bukan hanya tanah airku tetapi juga ayahku, dan nenek moyangku, samaseperti mereka, kami semuadatang bersama-sama ke tanah ini dari tanah air Slavia yang lama.

Namun tak satu pun dari kami, para lembu, yang merasa bangga karenanya, kami hanya bangga dengan kemampuan kami untuk menarik beban yang berat ke atas bukit; sampai hari ini, tidak pernah ada seekor lembu pun yang memberi tahu seekor lembu Jerman: “Apa yang kamu inginkan dariku, aku adalah seekor lembu Serbia, tanah airku adalah negara Serbia yang aku banggakan, semua leluhurku melahirkan di sini, dan di sini, di negeri ini, adalah kuburan nenek moyangku.“Amit-amit, kami tidak pernah bangga akan hal ini, hal seperti ini tidak pernah terlintas di benak kami, tapi mereka bangga akan hal itu. Dasar orang aneh!

Karena pikiran-pikiran ini, sayangnya, lembu itu menggelengkan kepalanya, bel di lehernya berbunyi dan kuk pun berderak.Arang membuka matanya, menatap temannya, dan melenguh:

–Lagi-lagi kau memusingkan diri dengan semua omong kosongmu! Makanlah bodoh, kumpulkan sedikit lemak, lihatlah tulang-tulang rusukmu yang mencuat; jika berpikir adalahsuatu hal yang baik, orang-orang tidak akan menyerahkannya kepada kita. Tidak mungkin kita seberuntung itu!

Abu memandang rekannya dengan rasa kasihan, memalingkan muka darinya, dan tenggelam kembali dalam pikirannya.

–Mereka bangga dengan masa lalu mereka yang gemilang. Mereka melalui Medan Kosovo, Pertempuran Kosovo.Hanya itu, bukankah nenek moyangkujuga menarik gerobak yang berisi makanan dan persenjataan pada saat itu?Jika bukan karena kami, orang-orang itu harus melakukannya sendiri.Kemudian ada pemberontakan saat melawan Turki. Suatu usaha yang agung dan mulia, tetapi siapa yang berada di sana saat itu? Apakah orang-orang tolol berhidung tinggi ini, yang mondar-mandir dengan bangga di hadapanku seolah-olah merekalah yang berjasa karena mengangkat pemberontakan?Lihat saja majikanku sebagai contohnya.

Dia juga sangat bangga dan membual tentang pemberontakan, terutama karena fakta bahwa kakek buyutnya tewas dalam perang kemerdekaan sebagai pahlawan sejati. Dan apakah itu jasa tuanku? Kakek buyutnya berhak untuk bangga, tapi bukan dia; kakek buyutnya tewasagar tuanku, keturunannya, bisa bebas. Dan sekarangdia sudah bebas, lalu bagaimana dia menggunakan kebebasannya? Dia mencuri tiang pancang orang lain, duduk di gerobak, dan aku harus menarik dirinya dan tiang pancang itu saat dia tertidur di belakang tali kekang.

Sekarang,setelah menjual tiang pancangnya, dia meminum minuman keras, tidak melakukan apa-apa dan bangga dengan masa lalunya yang gemilang.Dan ada berapa banyak dari nenek moyangku yang telah dibantai dalam pemberontakan untuk memberi makan para pejuang?Dan bukankah nenek moyangku pada saat itu juga mengangkut persenjataan, meriam, makanan, dan amunisi?Namun kami tidak bangga dengan jasa mereka karena kami belum berubah; kami masih melakukan tugas kami hingga hari ini, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kami, dengan sabar dan hati-hati.

Mereka bangga atas penderitaan nenek moyang mereka dan lima ratus tahun perbudakan. Kerabatku telah menderita di sepanjang hidup kami, dan hari ini kami masih menderita dan diperbudak, namun kami tidak meneriakkan hal itu sekeras-kerasnya.Mereka bilang orang Turki telah menyiksa, membantai dan menusuk mereka; tapi nenek moyangku dibantai oleh orang Serbia maupun Turki, dipanggang, dan disiksa sedemikian rupa.

Mereka bangga dengan agama mereka, namun mereka tidak percaya pada apa pun. Apa kesalahanku dan bangsaku sehingga kami tidak dapat diterima di antara orang-orang Kristen? Agama mereka mengatakan kepada mereka untuk “jangan mencuri” tapi tuanku malah mencuri dan minum-minum dari uang yang dia dapat dari mencuri. Agama mereka memerintahkan mereka untuk mencintai sesamanya, namun mereka hanya menyakiti satu sama lain. Bagi mereka, manusia terbaik, sebagai contoh kebajikan, adalah manusia yang tidak melakukan kejahatan, dan tentu saja, tidak ada yang meminta siapa pun untuk melakukan kebaikan, selain tidak menyakiti orang lain. Itulah contoh dari seberapa rendahnya mereka sehingga contoh kebajikan mereka tidak lebih dari barang tidak berguna yang tidak membahayakan.

Lembu itu menghela nafas dalam-dalam, dan hela nafasnya mengangkat debu dari jalanan.

– Jadi – lembu itu melanjutkan pikiran sedihnya – dalam hal ini, bukankah aku dan kerabatku lebih baik dalam semua itu daripada mereka? Aku tidak pernah membunuh siapa pun, aku tidak pernah mencemarkan nama baik siapa pun, tidak pernah mencuri apa pun, tidak memecat orang yang tidak bersalah dari layanan publik, tidak mendefisitkan kas negara, belum pernah menyatakan kebangkrutan palsu, aku tidak pernah mengikat atau menangkap orang yang tidak bersalah, aku tidak pernah memfitnah teman-temanku, aku tidak pernah melanggar prinsip-prinsip lembuku, aku tidak pernah membuat kesaksian palsu, aku tidak pernah menjadi menteri negara dan tidak pernah merugikan negara, dan aku bukan hanya tidak merugikan, aku bahkan berbuat baik kepada mereka yang menyakitiku.

Ibuku melahirkanku, dan tidak lama kemudian, orang-orang jahat itu bahkan mengambil susu ibuku dariku. Tuhan setidaknya telah menciptakan rumput untuk kami para lembu, bukan untuk manusia, namun mereka juga mencabuti rumput-rumputkami.Dan dengan mengesampingkan semua pukulan itu, kami tetap menarik gerobak manusia, membajak ladang mereka dan memberi mereka roti. Namun tidak ada yang mengakui jasa yang kami lakukan untuk tanah air ini…

– Atau puasa contohnya; Nah, bagi manusia, agama memerintahkan mereka untuk berpuasa pada semua hari raya, namun mereka bahkan tidak bersedia untuk menanggung puasa yang sebentar ini, sementara aku dan bangsaku berpuasa di sepanjang hidup kami, sejak pertama kali kami disapih dari payudara ibu.

Lembu ini menundukkan kepalanya seolah-olah dia khawatir, lalu mengangkatnya lagi, mendengus marah, dan sepertinya ada suatu hal penting yang masuk kembali ke dalam pikirannya dan menyiksanya; Tiba-tiba, dia melenguh dengan gembira:

– Oh, aku tahu sekarang, pasti karena itu – dan dia terus berpikir, – itu dia; mereka bangga dengan kebebasan dan hak sipil mereka. Akuharus memikirkannya dengan serius.

Dan dia berpikir, dan berpikir, tapi tidak bisa mengeluarkannya.

– Apasaja hak-hak mereka ini? Jika polisi memerintahkan mereka untuk memilih, mereka akanmemilih, dan jika seperti itu, kamidapat dengan mudah melontarkan kata: “Mee-mii-liih!” Dan jika mereka tidak diperintahkan, mereka tidak berani memilih, atau bahkan mencoba-coba politik, sama seperti kami. Mereka juga mendapatkan pemukulan di penjara, meskipun sama sekali tidak bersalah. Setidaknya kami meringkik dan melambaikan ekor kami, dan mereka bahkan tidak memiliki keberanian sipil yang kecil itu.

Pada saat itu, majikannya keluar dari bar. Mabuk, terhuyung-huyung, dengan mata yang kabur, menggumamkan beberapa kata yang tidak bisa dimengerti, berjalan menuju gerobak.

– Lihatlah bagaimana keturunan yang sombong ini menggunakan kebebasan yang dimenangkan dengan darah leluhurnya? Benar, majikanku adalah seorang pemabuk dan pencuri, tapi bagaimana orang lain menggunakan kebebasan ini? Hanya untuk bermalas-malasan dan bangga akan masa lalu dan jasa nenek moyang mereka, di mana mereka memiliki kontribusi sebanyak diriku. Dan kami para lembu, kami tetap menjadi pekerja keras dan berguna seperti nenek moyang kami sebelumnya.Kami memang lembu, tapi kami masih bisa bangga dengan kerja keras dan jasa kami hari ini.

Lembu itu menghela nafas dalam-dalam dan menyiapkan lehernya untuk kuknya.

 

Di Beograd, 1902.
Untuk Proyek “Radoje Domanović” diterjemahkan oleh Verdia Juliansyah Cancerika, 2020.